Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Friday, 3 August 2012

Suara Kehidupan

Suara kehidupanku memang tak akan mampu menjangkau telinga kehidupanmu; tapi marilah kita cuba saling bicara barangkali kita dapat mengusir kesepian dan tidak merasa jemu

Wednesday, 1 August 2012

Pandangan Pertama

Itulah saat yang memisahkan aroma kehidupan dari kesedarannya.
Itulah percikan api pertama yang menyalakan wilayah-wilayah jiwa.


Itulah nada magis pertama yang dipetik dari dawai-dawai perak hati manusia.
Itulah saat sekilas yang menyampaikan pada telinga jiwa tentang risalah hari-hari yang telah berlalu dan mengungkapkan karya kesedaran yang dilakukan


malam, menjadikan mata jernih melihat kenikmatan di dunia dan menjadikan
misteri-misteri keabadian di dunia ini hadir.


 
Itulah benih yang ditaburan oleh Ishtar, dewi cinta, dari suatu tempat yang
tinggi.
Mata mereka menaburkan benih di dalam ladang hati, perasaan memeliharanya,
dan jiwa membawanya kepada buah-buahan.


Pandangan pertama kekasih adalah seperti roh yang bergerak di permukaan air
mengalir menuju syurga dan bumi. Pandangan pertama dari sahabat kehidupan
menggemakan kata-kata Tuhan, "Jadilah, maka terjadilah ia"

Tuesday, 31 July 2012

DUA PUISI

Berabad-abad yang lalu, di suatu jalan menuju Athens, dua orang penyair  bertemu. 
Mereka mengagumi satu sama lain. Salah seorang penyair bertanya,

"Apa yang kau ciptakan akhir-akhir ini, dan bagaimana dengan lirikmu?"
Penyair yang seorang lagi menjawab dengan bangga, "Aku tidak melakukan hal
lain selain menyelesaikan syairku yang paling indah, kemungkinan merupakan
syair yang paling hebat yang pernah ditulis di Yunani. Isinya pujian tentang
Zeus yang Mulia."

Lalu dia mengambil selembar kulit dari sebalik jubahnya dan berkata, 
"Ke mari, lihatlah, syair ini kubawa, dan aku senang bila dapat membacakannya untukmu.
Ayuh, mari kita duduk berteduh di bawah pohon cypress putih itu."
Lalu penyair itu membacakan syairnya. Syair itu panjang sekali.
Setelah selesai, penyair yang satu berkata, "Itu syair yang indah sekali. Syair itu
akan dikenang berabad-abad dan akan membuat engkau masyhur."

Penyair pertama berkata dengan tenang, "Dan apa yang telah kau ciptakan
akhir-akhir ini?"
Penyair kedua menjawab, "Aku hanya menulis sedikit. Hanya lapan baris untuk
mengenang seorang anak yang bermain di kebun." Lalu ia membacakan
syairnya.

Penyair pertama berkata, "Boleh tahan, boleh tahan."
Kemudian mereka berpisah.

Sekarang, setelah dua ribu tahun berlalu, syair lapan baris itu dibaca di setiap
lidah, diulang-ulang, dihargai dan selalu dikenang. Dan walaupun syair yang
satu lagi memang benar bertahan berabad-abad lamanya dalam perpustakaan,
di rak-rak buku, dan walaupun syair itu dikenang, namun tidak ada yang
tertarik untuk menyukainya atau membacanya.

Thursday, 26 July 2012

Fajar Cinta.......

Fajar cinta akan membangunkanku 
dari tidur lelap dan 
membawaku kepadang jauh.
Dikala siang cinta membawaku kebawah naungan bayang -bayang pepohonan tempat ku dan burung burung berlindung  dari sengatan matahari.

Wednesday, 25 July 2012

Kawanku


          Kawanku, aku bukanlah apa yang tampak padaku. Penampilan tidak lebih apa hanyalah pakaian yang kukenakan yakni kain yang melindungiku dari cecaran pertanyaanmu dan melindungimu dari kealpaanku.

          “Aku” didalam diriku kawanku, mendekam dirumah keheningan, dan disana ia akan tinggal selamanya, tak teraba, tak terdekati.

          Mustahil bagiku untuk membuatmu meyakini apa yang kukatakan atau mempercayai apa yang kulakukan-sebab kata-kataku hanyalah suara pikiranmu yang kusuarakan dan tindakanku adalah harapanmu yang diwujudkan.

Wednesday, 18 July 2012

Dari buku "Pasir dan Buih"

Kita semua pengemis di gapura kuil, masing masing menerima bagiannya
dari sang Raja ketika datang dan pergi.
Namun kita saling mengiri, yang tiada lain cara meremehkan Sang Pemberi.
Engkau tak dapat makan melebihi selera.
Potongan roti yang lain, milik orang lain
Dan seyogyanya masih ada yang tersisa.
Bagi tamu yang datang tiba tiba.


Thursday, 17 May 2012

Tentang Rasa sakit

Dan seorang wanita berkata, Bicaralah tentang rasa sakit.
Dan ia berkata:
Rasa sakitmu adalah pecahnya cangkang yang membungkus pemahamanmu.
Bahkan ketika buah batu harus pecah, hatinya harus berdiri dibawah sinar matahari, saat itulah kau akan tahu
tentang rasa sakit.
Dan kau dapat membiarkan hatimu dalam pengembaraan keajaiban kehidupanmu, rasa sakitmu tidak akan lebih aneh dari pada kebahagiaanmu.
Dan aku dapat menerima musim-musim dalam hatimu, bahkan ketika kau diterima musim musim yang melewati
ladang ladangmu.

Dan kau akan melihat kepedihan melalui musim dingin kesengsaraanmu.
Dan kebanyakan rasa sakit kau pilih sendiri.
Itu adalah racun paling pahit untuk mengurangi rasa sakitmu.
Percayalah pada tabib, dan minumlah obatnya dalam kesunyian dan kelelahan.
Karena tangannya, walau kasar dan berat, ditunjukkan oleh tangan lembut yang tak tampak.
Dan cangkir yang ia bawa, walau membakar bibirmu, telah dihias oleh air mata keramat-Nya.

Wednesday, 16 May 2012

Tentang Kebahagian dan Penderitaan

Lalu seorang wanita berkata, bicaralah tentang kebahagian dan penderitaan.
Lalu ia menjawab :
Kebahagiaanmu adalah penderitaanmu yang tak bertopeng.
Dan sumur dari mana tawamu seringkali bercampur dengan airmata.
Bagaimana mungkin terjadi lain?
Semakin dalam penderitaan terukir semakin banyak pula kebahagiaan.
Bukankah cangkir yang terisi anggurmu adalah cangkir yang terbakar dalam pot?
Dan bukankah kecapi yang menyejukkan jiwamu adalah kayu yang dilubangi oleh pisau?

Tentang Berbagi

Dan siapakah dirimu hingga mereka harus menyingkap dada mereka dan menyingkap harga diri mereka,
hingga kau dapat melihat harga diri mereka yang telanjang dan keterbukaan harga diri mereka?
Lihatlah pada dirimu sendiri apakah pantas menjadi pemberi, dan alat dari pemberian.
Karena sebenarnya kehidupan yang memberi kepada kehidupan.
Sementara kau, yang menganggap diri kalian sebagai pemberi, namun sebenarnya hanya sebagai saksi.

Saturday, 12 May 2012

Tentang Cinta

Kau boleh berusaha seperti mereka, tapi jangan membuat mereka sepertimu
Karena hidup tidak berjalan mundur, atau berkaitan dengan kemarin
Kau adalah busur dimana panah anak-anakmu diluncurkan
Pemanah melihat tanda dijalan setapak kepastian, dan ia membengkokkanmu dengan kekuatanNya
sehingga panahNya melesat dan jauh.
Biarkan bengkokmu di tangan pemanah menjadi kegembiraan
Karena bahkan saat ia mencintai panah yang terbang, ia juga mencintai busur yang diam.